Published On: Wed, Aug 9th, 2017

Kisah Dua Arjuna Asal Semarang Penggerak Roda Ekosistem Developer Indonesia

Wakhyudi, Indonesia Android Kejar (IAK) Semarang

Wakhyudi, Indonesia Android Kejar (IAK) Semarang

SEMARANG, beritasemarang.net – Berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia, khususnya sebagai guru, tidaklah sulit. Yang sulit justru bagaimana bertahan untuk terus bergelut di sektor tersebut dengan penghasilan yang seadanya. Ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi di era serba digital ini yang memaksa sarana prasarana pendidikan Indonesia mengikuti arus agar tak tertinggal di belakang.

Adalah seorang lulusan Universitas Negeri Semarang tahun 2009, Wakhyudi, pria kelahiran Pemalang, 10 Oktober 1986 ini mengawali karirnya sebagai guru bimbingan belajar swasta tepat setelah lulus kuliah. Wakhyudi melanjutkan karirnya sebagai pengajar IPA dan Fisika di bimbingan belajar swasta dengan cakupan murid yang lebih luas (dari kelas 4 SD hingga alumni SMA/SMK) selama 2.5 tahun.

Setelah menikah, ia pulang ke Semarang dan mengajar fisika di SMK Telekomunikasi Tunas Harapan Kab. Semarang, Salatiga. Setiap harinya ia pulang pergi Semarang-Salatiga yang memakan waktu selama 3 jam, dan rutinitas ini dijalaninya selama 5 tahun dengan mengendarai sepeda motor. Namun kini, Wakhyudi sangat menikmati rutinitasnya sebagai pengajar Android.

Berawal dari mendirikan sebuah komunitas bernama SANDEC (Semarang Android Development Center) bersama beberapa temannya pada tahun 2016, Wakhyudi memutuskan untuk ikut serta sebagai fasilitator Android Kejar Batch 3 level beginner . Dari 10 orang yang mengikuti kelasnya, 7 diantaranya berhasil menyelesaikan final project dan lulus pada akhir Mei lalu.

Dengan antusias, Wakhyudi menjelaskan suka citanya selama menjadi fasilitator IAK, “Ya lebih banyak sukanya, bahkan dukanya ngga ada. Di kelas itu kita bertemu orang-orang baru, terutama mahasiswa, orang-orang muda yang masih bersemangat. Yang agak miris ketika melihat seorang mahasiswa semester 12 yang sebentar lagi di- drop out ikut kelas saya. Itu kesempatan saya untuk memotivasinya. Alhamdulillah ia termasuk peserta yang lulus dari kelas saya”.

Ketulusan seorang guru nampak semakin jelas pada sosok ayah dari seorang putri usia 5 tahun ini. Alasan utamanya untuk menyadarkan lingkungan sekitar terutama para mahasiswa agar mereka memiliki kemauan lebih khususnya di sektor Teknologi Informasi (TI). “Dengan adanya IAK ini saya jadi semakin ikhlas untuk terus berbagi ilmu dan wawasan Android yang saya miliki. Wong Google kasih fasilitas gratis dengan program ini kok, ya tinggal kitanya aja mau ngga jadi bermanfaat untuk orang lain”, tambahnya dengan khas kekentalan logat Semarangnya.

“ Semua itu ga semata-mata karena duit, masih banyak yang lebih berharga. Kalau kita dalam kesempitan tapi bisa bantu banyak orang, rezeki itu ada aja”, tuturnya. Wakhyudi juga menyampaikan kepada para pesertanya bahwa tujuan mengikuti IAK janganlah untuk mencari sertifikat, ilmu yang didapatkan melalui program IAK ini jauh lebih berharga dari selembar sertifikat.

Dijelaskan oleh Jason Tedjasukmana, Head of Corporate Communication Google Indonesia, Indonesia Android Kejar (Kelompok Belajar) adalah sebuah program inisiasi Google Developers untuk mendukung seluruh masyarakat Indonesia di bidang pengembangan aplikasi Android. Pada praktiknya, program ini memanfaatkan platform kursus online Udacity untuk mengembangkan aplikasi selular dengan membentuk kelompok-kelompok belajar di komunitas-komunitas lokal yang ada. Indonesia Android Kejar secara berkelanjutan akan terus dilangsungkan sebagai bentuk nyata komitmen Google dalam membantu pemerintah Indonesia mempersiapkan 100,000 developer selular hingga tahun 2020.

Seni Arto-IAK Semarang

Seni Arto-IAK Semarang

Kisah lainnya datang dari Seni Arto, pria kelahiran 19 September 1992. Arjuna asal Semarang lainnya yang berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri dengan menyertakan pengalamannya ikut serta di Android Kejar Batch 3 kemarin beserta dengan keikutsertaannya di komunitas SANDEC. Seni berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan di jurusan Information Engineering, National Taiwan University of Science and Technology.

Pada term IAK kemarin, Seni ikut serta sebagai fasilitator level beginner yang beranggotakan 13 peserta. Namun dikarenakan sarana dan prasarana dari para peserta di daerah Ungaran (12 KM dari Kota Semarang) yang sangat minim, peserta yang berhasil lulus hanyalah sebanyak 3 orang. “Saat itu saya bekerjasama dengan SMK Bina Nusantara untuk meminjamkan perangkat laptop ke para peserta untuk penggunaan di sekolah. Namun, ternyata kurang efektif juga untuk anak-anak”, tutur Seni sedikit
memelas.

Seni berharap agar semakin banyak generasi muda yang memiliki keinginan untuk terus berbagi ilmu dan wawasan yang dimilikinya, khususnya di bidang pengembangan Android. Ia pun juga sepakat dengan Wakhyudi yang membeberkan sebuah riset bahwa semakin kesini, era semakin bergeser ke generasi milenial dimana semuanya akan dikembalikan ke dunia digital. “Kalau kita sudah mempersiapkan anak-anak kita untuk belajar Android sejak dini, kita ngga akan selalu jadi konsumen. Jadi mau ngga mau
kita harus beradaptasi dengan teknologi”, ujar Seni, lulusan Sistem Informasi Universitas Dian Nuswantoro.

Teriring harapan sederhana kedua arjuna ini untuk nantinya dapat mengubah ekosistem developer di Indonesia ke arah yang lebih baik. Informasi lebih lengkap mengenai Indonesia Android Kejar dapat ditemukan di g.co/dev/androidkejar.

Kontributor: Dina

(Sheyla/BS02)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>